ADV MIND New

Indonesia Re Dorong Kemandirian Pangan Melalui Budidaya Ikan Terpadu di Kemayoran

 Indonesia Re Dorong Kemandirian Pangan Melalui Budidaya Ikan Terpadu di Kemayoran

--

Jakarta, Kabarkansaja.com - TJSL Department Head Indonesia Re Karno Erson (dua dari kanan) saat melihat produk olahan ikan presto di sela penyerahan bantuan sarana dan prasarana pendukung kegiatan budidaya dan pengolahan ikan kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Renoma Maju Bersama di Kemayoran, Jakarta Pusat. 

PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui program TJSL “Indonesia Re Peduli Pangan: Budidaya Ikan Terpadu untuk Kemandirian Pangan”. 

Bantuan yang diberikan oleh perusahaan reasuransi BUMN terbesar di Indonesia yang merupakan bagian dari PT Danantara Asset Management (Danantara Indonesia) ini berupa sarana dan prasarana pendukung kegiatan budidaya dan pengolahan ikan, yang meliputi pompa LP 100, pakan ikan, timbangan digital, alat presto, dan freezer.

Selain dukungan peralatan, Indonesia Re juga memberikan pembekalan sertifikasi halal bagi produk olahan ikan serta pelatihan pengelolaan dan pengolahan ikan air tawar. Pokdakan Renoma Maju Bersama mulai menjalankan kegiatan budidaya sejak 2019 dengan mengandalkan dana swadaya masyarakat.

Saat ini, Pokdakan Renoma Maju Bersama mengelola empat kolam beton dan 15 kolam fiber yang digunakan untuk membudidayakan sejumlah komoditas, antara lain lele, gurame, nila, serta lobster. 

Dari total 15 anggota kelompok, sebanyak 10 orang saat ini aktif terlibat dalam kegiatan budidaya. Kelompok juga mulai memberdayakan masyarakat sekitar, termasuk para ibu, dalam kegiatan pengolahan produk ikan seperti pembuatan bumbu racik dan marinasi.

Ketua Pokdakan Renoma Maju Bersama, Zafar Sodiq, mengatakan bahwa pengembangan usaha kelompok masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan sarana produksi, pakan dan vitamin ikan, serta kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan teknis mengenai budidaya ikan air tawar.

“Kebutuhan kami saat ini cukup banyak, mulai dari pakan dan vitamin ikan, alat bantu produksi, hingga pengetahuan mengenai budidaya ikan air tawar yang terus berkembang. Keterbatasan modal swadaya juga membuat kami belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut secara optimal, termasuk untuk mendukung sertifikasi halal sebagai salah satu penunjang pengembangan penjualan produk,” ujar Zafar.

Meskipun dalam dalam tahap pengengembangan, dengan kapasitas produksi terbatas, Pokdahan Renoma Maju Bersama memiliki potensi untuk terus meningkatkan skala dan produktivitas usahanya. 

Saat ini, kelompok dapat melakukan panen lele sekitar empat kali dalam satu tahun dengan angka produksi sekitar 50 kilogram setiap panen, atau sekitar 200 kilogram per tahun. Selain itu, nila dapat dipanen sekitar dua kali dalam setahun dengan produksi sekitar 80 kilogram setiap panen atau sekitar 160 kilogram per tahun. 

Melihat potensi tersebut, Indonesia Re hadir memberikan dukungan untuk meningkatkan hasil

produksi. Keterbatasan kapasitas produksi tersebut juga membuat pendapatan kelompok masih bersifat fluktuatif dan belum dapat ditetapkan sebagai omzet yang konsisten. 

Karena itu, dukungan pengembangan sarana budidaya, benih ikan, pakan, serta peningkatan kapasitas menjadi penting untuk membantu kelompok membangun kegiatan usaha yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Kepala Divisi TJSL & ESG Indonesia Re, Mardian Adhitya, mengatakan program Indonesia Re Peduli Pangan merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan penguatan ketahanan pangan lokal.