“Memasuki tahun 2026, perusahaan yang sudah berdiri sejak 1987 ini berkomitmen melanjutkan ekspansi armada sebagai bagian dari strategi skalabilitas operasional. Fokus utama kami adalah meningkatkan kapasitas layanan sekaligus menjaga efisiensi dan daya saing perusahaan," lanjut Ganny.
“Perseroan juga tengah mempersiapkan operasional pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026. Selain itu, kami terus memperluas layanan logistic terintegrasi serta melanjutkan kerja sama BOT dengan PT Pelindo Terminal Petikemas untuk perluasan dermaga di Tanjung Priok dari 340 meter menjadi 485 meter sebagai fondasi kapasitas jangka panjang,” jelas Ganny.
TMAS menargetkan pendapatan jasa sebesar Rp5,53 triliun pada tahun 2026 atau tumbuh lebih dari 27% dibandingkan realisasi pendapatan tahun 2025 yang mencapai Rp4,34 triliun.
Untuk mendukung target tersebut, perseroan akan mengoptimalisasi ekspansi kapasitas yang telah dijalankan bertranformasi menjadi mesin-mesin pertumbuhan perseroan, salah satunya dengan pembukaan rute baru dan meningkatkan load factor setiap armada.
Pilar strategi yang telah dicanangkan pada tahun sebelumnya dipercaya akan membangun efisiensi biaya. Mesin pertumbuhan bekerja lebih optimal dampak dari operasional yang lebih hemat dan ramah lingkungan.
Ketahanan ini memastikan bahwa "mesin pertumbuhan" tetap bisa berputar stabil dalam jangka panjang dan dapat memberikan pertumbuhan berkelanjutan untuk para pemangku kepentingan.
“Kualitas layanan dan keselamatan armada tetap menjadi prioritas utama perseroan, mengacu pada standar industri pelayaran nasional maupun internasional,” tegas Ricky menambahkan.
Terkait perkembangan geopolitik global, perseroan tetap mawas diri dan senantiasa akan terus mencermati, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah. Meski hal ini tidak berdampak langsung terhadap bisnis TMAS, namun kondisi geopolitik internasional menjadi salah satu faktor yang memengaruhi volatilitas harga bahan bakar dan dinamika rantai pasok global.
Tahun buku 2025, TMAS berhasil mencatatkan kinerja terbaik di tengah berbagai tantangan yang ada. Total pendapatan jasa tercatat sebesar Rp4,34 triliun, naik tipis 0,1% atau sekitar Rp4 miliar dibandingkan tahun 2024. Kenaikan ini terutama didorong oleh pertumbuhan segmen pendapatan domestik yang naik menjadi Rp4,13 triliun atau tumbuh 2,5% dari Rp4,03 triliun pada tahun 2024.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih tahun 2025 tercatat sebesar Rp553 miliar, turun 23,3% dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp722 miliar. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh adanya laba pelepasan aset tetap yang signifikan pada tahun 2024 yang tidak berulang di 2025, serta tekanan volatilitas harga bahan bakar bunker yang menekan marjin kotor menjadi Rp797 miliar dari Rp900 miliar di tahun sebelumnya.
Aset perusahaan tercatat tumbuh dengan sangat baik. Total aset meningkat 19,9% menjadi Rp5,29 triliun dari Rp4,41 triliun pada tahun 2024, mencerminkan solidnya posisi keuangan perseroan dan besarnya potensi pertumbuhan ke depan.
Hingga akhir 2025, perusahaan yang IPO sejak 2003 ini memiliki lebih dari 40 ribu unit peti kemas/kontainer dan 57 unit kapal dengan total kapasitas angkut lebih dari 28 ribu TEUs, lebih dari 460 ribu DWT. Hingga akhir tahun 2025 jangkauan layanan yang diberikan oleh perseroan sebanyak 68 (enam puluh delapan) pelabuhan yang membentang dari Barat ke Timur Indonesia. (K1/Ad)